NoaH’s Ark

ini juga ngambil dari blog teman :p

Noah’s Ark Everything I need to know, I learned from Noah’s
Ark. 🙂

ONE: Don’t miss the boat.

TWO: Remember that we are all in the same boat.

THREE: Plan ahead. It wasn’t raining when Noah built the Ark.

FOUR: Stay fit. When you’re 60 years old, someone may ask you to do something really big.

FIVE: Don’t listen to critics;  just get on with the job that needs to be done.

SIX: Build your future on high ground.

SEVEN: For safety’s sake, travel in pairs.

EIGHT: Speed isn’t always an advantage.

The snails were on board with the cheetahs.

NINE: When you’re stressed, float awhile.

TEN: Remember, the
Ark was built by amateurs; the Titanic by professionals.

ELEVEN: No matter the storm, when you are with God, there’s always a rainbow waiting.

Most people walk in and out of your life……but FRIENDS leave footprint in your heart 

 

 

Advertisements

RaPinYa PengaTuran Air di Kota GuRun

Gersang dan panas. Itulah komentar sepintas lalu sebagian besar orang saat ditanya kondisi Benua Afrika. Namun, komentar umum itu tidak seluruhnya benar, terutama jika kita berada di Maroko, khususnya di kota terbesarnya, yaitu
Casablanca.

Secara umum, Maroko yang berada di barat laut Benua Afrika memang gersang. Apalagi jika kita berada di negara itu pada musim panas yang jatuh bulan Juni-Juli. Selain gersang, angin juga berembus kencang.

Kegersangan ini akan terlihat lebih jelas lagi jika menyusuri jalan darat dari Casablanca hingga Marakech yang merupakan
kota wisata di negara bekas jajahan Perancis ini. Di kiri-kanan jalan sepanjang sekitar 220 kilometer yang menghubungkan kedua
kota itu, umumnya terlihat hamparan gurun pasir.

Namun, situasi di atas tidak berarti 32,7 juta warga negara yang dipimpin Raja Mohammed VI tersebut kesulitan air. Di Casablanca, misalnya, air mudah didapat. Bahkan, lima juta warga
kota yang bangunannya dipenuhi oleh arsitektur art deco ini dapat langsung meminum air yang tiba di rumah-rumah mereka.

Karena itu, nama “perusahaan air minum” di
kota tersebut benar-benar dipertanggungjawabkan sebab air yang mereka hasilkan dapat langsung diminum. Berbeda dengan di
Jakarta di mana air yang dihasilkan Perusahaan Air Minum Jakarta Raya (PAM Jaya) lewat dua mitra swastanya, yaitu PT PAM Lyonnaise Jaya (Palyja) dan PT Thames PAM Jaya (TPJ), baru bertaraf air bersih dan belum air minum. Karena itu, air yang mereka hasilkan harus dimasak dahulu sebelum dikonsumsi.

Penduduk Casablanca yang merupakan
kota terbesar di Maroko juga dapat menikmati layanan air minum selama 24 jam. Jika ternyata pasokan air di rumah mereka terganggu, mereka tinggal menelepon kantor Lydec (Lyonnaise Des Eaux De Casablanca) yang bertugas mendistribusikan air minum di
kota itu. Biasanya, kurang dari 24 jam setelah pengaduan, gangguan sudah dapat diatasi.

Cepatnya penanganan gangguan ini karena pendistribusian air di Casablanca telah dikontrol dengan sistem komputer yang lumayan canggih. Di kantor pusat

Lydec di Angle Avenue

, kontrol ini dilakukan dalam suatu ruangan yang di dalamnya terdapat layar berukuran sekitar 6 x 9 meter.

Di layar itu tertampang semua jaringan air minum di Casablanca yang merupakan
kota dagang di Maroko. Jika terjadi gangguan, di layar itu akan muncul titik warna merah tepat di mana gangguan itu terdapat. Jika letak gangguan dinilai belum jelas, dengan mudah dapat diperjelas dengan menampilkan gambar yang lebih terperinci.

“Gangguan dapat berbentuk teknis atau kimia. Untuk gangguan teknis, misalnya air tidak mengalir, dapat diketahui misalnya lewat penurunan tekanan air dalam pipa. Sementara gangguan kimia, seperti kualitas air yang tidak semestinya, biasanya disebabkan oleh tidak pasnya kandungan kimia di dalam air itu,” ujar Muna, petugas dari Lydec. Dengan sistem modern ini, bentuk dan letak gangguan dapat diketahui kurang dari satu jam setelah terjadi.

Jika yang muncul gangguan kimia, Lydec akan segera menghubungi pemerintah sebagai produsen air untuk memperbaikinya. Pasalnya, semua air yang didistribusikan Lydec berasal dari pemerintah. “Jika kami komplain ke pemerintah, biasanya dalam waktu 24 jam mereka akan segera memperbaikinya,” ujar Muna.

Sementara jika masalah ditemukan dalam distribusi, Lydec akan mengirim petugasnya untuk segera memperbaiki secara cepat dan efisien. Pasalnya, lewat sistem komputer di kantor Lydec, petugas itu sudah tahu letak kerusakan sehingga hanya perlu memastikan penyebab dan besar kerusakan yang terjadi serta cara memperbaikinya.

“Pemantau jaringan pendistribusian air ini kami bangun dengan investasi sekitar 4 juta dollar AS dan beroperasi selama 24 jam dalam sehari serta tujuh hari dalam seminggu,” tutur Muna.

“Belum,” jawab Manajer Relasi Publik PT Palyja Ratna Indrayani saat ditanya apakah PT Palyja sudah memiliki sistem kontrol pendistribusian air bersih seperti milik Lydec.

Belum adanya sistem kontrol pendistribusian seperti yang dimiliki Lydec di atas menjadi salah satu hambatan bagi operator air minum di
Jakarta dalam memantau kualitas dan kuantitas air yang diterima masyarakat, serta menekan persentase kehilangan air yang sekarang mencapai 51 persen.

Bekerja serius

Direktur Lydec Rui Sobral menuturkan, pembangunan sistem kontrol pendistribusian air seperti yang dimiliki Lydec sekarang serta sejumlah hal lain, seperti membuka saluran pengaduan konsumen 24 jam dan penawaran berbagai cara pembayaran tagihan, semata-mata dilakukan untuk meningkatkan kualitas pelayanan kepada konsumen.

“Kami harus bekerja sungguh-sungguh untuk memenuhi semua target yang ada dalam kontrak kerja sama,” ucap Sobral.

Sobral menuturkan, Lydec memulai kerja sama dengan Pemerintah Maroko untuk pendistribusian air minum di
Casablanca sejak 1997 dan rencananya akan berlangsung selama 30 tahun. “Sekarang jangkauan pendistribusian pelayanan kami baru sekitar 95 persen. Namun, seperti dicantumkan dalam perjanjian, 15 tahun lagi pelayanan kami sudah mencakup seluruh warga
Casablanca,” tuturnya.

Dalam kontrak, lanjut Sobral, Lydec juga wajib memperbaiki jaringan air minum dan setiap
lima tahun membuat 45.000 sambungan air sosial.

Namun, semua kenyamanan warga
Casablanca dalam menikmati pelayanan pendistribusian air oleh Lydec ini tidaklah gratis. Masyarakat tetap dikenai tarif yang besarnya ditinjau setiap enam bulan.

Campur tangan pemerintah dalam penentuan tarif ini dimaksudkan agar tidak semena-mena dalam menetapkan tarif. Namun, selain memakai ukuran jelas, juga harus disesuaikan dengan kemampuan masyarakat.

Menurut Sobral, pemasukan dari iuran pelanggan selama ini cukup untuk biaya operasional. Sementara pembukaan jaringan baru memakai dana dari pendaftaran pelanggan baru.

Dengan kerja sama dan pembagian tugas yang sehat antara pemerintah dan Lydec, warga
Casablanca dapat menikmati air minum dengan tenang. Bagaimana dengan
Jakarta? ( by :M Hernowo. dalam Kompas, 14 Juli 2006) 

uPaya MeliNdun9i suMbeR aiR

UPAYA melindungi sumber air, saat ini mendapatkan perhatian yang cukup serius dari pemerintah. Hal ini berangkat dari kesadaran masyarakat dan pemerintah bahwa sumber air sebagai unsur lingkungan yang vital merupakan salah satu sumber daya alam yang dapat menjamin berlanjutnya kehidupan.

Berbagai peraturan perundang-undangan dikeluarkan seperti “Ketentuan-ketentuan Payung”, yang dituangkan dalam Undang-undang No. 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang, UU No. 23/1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup, UU No. 41/1999 tentang Kehutanan, UU No. 7/2004 tentang Sumber Daya Air. Peraturan-peraturan pelaksanaannya antara lain dituangkan dalam Peraturan Pemerintah No. 22/1982 tentang Tata Pengaturan Air, PP 27/1991 tentang Rawa, PP 35/1991 tentang Sungai, PP 82/2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air, PP 16/2004 tentang Penatagunaan Tanah dan Keppres No. 32/1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung.

Untuk mendukung upaya-upaya hukum tersebut, Pemda, Prov. Jabar menindaklanjuti dengan mengeluarkan beberapa perda, antara lain Perda No. 3/2001 tentang Pola Induk Pengelolaan Sumber daya Air di Provinsi Jawa Barat, Perda No. 2/2003 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Jawa Barat, Perda No. 1/2004 tentang Rencana Strategis Pemerintah Provinsi Jawa Barat, Perda No. 3/2004 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air.

Perda No. 8/2005 tentang Sempadan Sumber Air, yang memperbarui perda-perda yang tidak sesuai lagi dengan perkembangan saat ini, antara lain Perda No. 20/1995 tentang Garis Sempadan Sungai dan Sumber Air dan Perda No. 12/1997 tentang Pembangunan di Pinggir Sungai dan Sumber Air, merupakan upaya komprehensif dalam melakukan perlindungan, pengembangan pemanfaatan, dan pengendalian sumber daya air. Oleh karena itu, perda ini dimaksudkan untuk penataan bangunan di pinggir sumber air, perlindungan masyarakat dari daya rusak air, penataan lingkungan, dan pengembangan potensi ekonomi agar dapat dilaksanakan sesuai tujuannya.

Dengan kata lain, penetapan daerah sempadan sumber air bertujuan agar :

1. Fungsi sumber air tidak terganggung oleh aktivitas yang berkembang di sekitarnya;
2. Daya rusak air pada sumber air dan lingkungannya dapat dibatasi dan dikendalikan;
3. Kegiatan pemanfaatan dan upaya peningkatan nilai manfaat sumber air dapat memberikan hasil secara optimal, sekaligus menjaga kelestarian fisik dan kelangsungan fungsi sumber air;

4. Pembangunan dan/atau bangunan di pinggir sumber air wajib memerhatikan kaidah-kaidah ketertiban, keamanan, keserasian, kebersihan dan keindahan daerah sempadan sumber air;
5. Para penghuni dan/atau pemanfaat bangunan serta lahan di pinggir sumber air, wajib berperan aktif dalam memelihara kelestarian sumber air.
Ruang lingkup pengaturan daerah sempadan sumber air lintas kabupaten/kota yang dikelola oleh pemerintah daerah, meliputi penetapan garis sempadan, pengaturan bangunan di pinggir garis sempadan, pembinaan dan pengawasan, penataan dan pemanfaatan daerah sempadan. Dalam hal pengelolaan daerah sempadan sumber air tersebut, pemerintah daerah dapat bekerjasama dengan pemerintah kabupaten/kota di wilayahnya. Sedangkan dalam hal penataan dan pemanfaatannya dapat dikerjasamakan dengan pihak ketiga.

Penataan daerah sempadan sumber air air harus memerhatikan hal-hal sebagai berikut :

1. Bebas dari bangunan permanen, semipermanen dan permukiman;
2. Bebas pembuangan sampah, limbah padat dan limbah cair yang berbahaya terhadap lingkungan;
3. Seoptimal mungkin digunakan untuk jalur hijau;
4. Tidak mengganggu kelangsungan daya dukung, daya tampung, dan fungsi sumber air.
Pemanfaatan lahan di daerah sempadan dapat dilakukan untuk kegiatan-kegiatan :
1. Budi daya perikanan dan pertanian dengan jenis tanaman tertentu;
2. Pemasangan papan reklame, papan penyuluhan, dan peringatan, serta rambu-rambu pekerjaan;
3. Pemasangan jaringan kabel dan jaringan perpipaan, baik di atas maupun di dalam tanah;
4. Pemancangan tiang fondasi prasarana transportasi;
5. Penyelenggaraan kegiatan-kegiatan yang bersifat ekonomi dan sosial kemasyarakatan lainnya, yang tidak menimbulkan dampak merugikan bagi kelestarian dan keamanan fungsi serta fisik sumber air;
6. Pembangunan prasarana lalulintas air;
7. Pembangunan bangunan pengambilan dan pembuangan air.
Apabila melanggar ketentuan tentang perizinan, maka pelanggar diancam pidana kurungan paling lama 3 bulan atau denda paling tinggi Rp 50.000.000,00. Akan tetapi, jika tindak pidananya mengakibatkan rusaknya sumber air dan prasarananya, mengganggu upaya pengawetan air dan/atau mengakibatkan pencemaran lingkungan, dikenakan ancaman pidana sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku.

Pembangunan fasilitas umum dan/atau yang melintas di atas maupun di bawah dasar sumber air, harus mempertimbangkan ruang bebas di atas permukaan air tertinggi serta dasar sumber air yang terdalam. Gubernur dapat menetapkan suatu ruas di daerah sempadan yang merupakan lahan masyarakat untuk membangun jalan inspeksi dan/atau bangunan pengairan yang diperlukan, dengan ketentuan lahan tersebut dibebaskan.

Pembangunan bangunan hunian dan/atau sarana pelayanan umum yang didirikan di luar batas garis sempadan sumber air, harus mempunyai penampang muka atau bagian muka yang menghadap ke sumber air. Pembangunan tersebut harus mendapatkan izin dari pihak berwenang. Apabila bangunan yang sudah terbangun tidak sesuai dengan persyaratan tersebut, maka Perda No. 8/2005 memberikan toleransi waktu untuk menyesuaikan paling lambat dalam jangka waktu 5 tahun, terhitung diberlakukannya tanggal 9 September 2005.

Penetapan garis sempadan

Gubernur menetapkan garis sempadan di sekeliling dan di sepanjang kirin kanan sumber air, baik pada lokasi yang telah terbangun maupun yang belum terbangun, dengan mempertimbangkan perencanaan kapasitas daya tampung sumber air, kondisi tanah tebing sumber air, bangunan perlindungan tebing sumber air, jalur lintasan pemeliharaan sumber air dan pengaruh surut air laut. Khusus untuk mata air, sungai, danau, waduk, rawa, dan pantai pada lokasi yang belum terbangun harus mempertimbangkan hal-hal tersebut, serta batas minimal garis sempadannya.

Batas garis sempadan sumber air yang diatur di dalam pasal-pasal Perda No. 8/2005, antara lain :

1. Mata air ditetapkan sekurang-kurangnya dengan radius 200 meter di sekitar mata air;
2. Sungai bertanggul di kawasan pedesaan sekurang-kurangnya 5 meter diukur dari sebelah luar sepanjang kaki tanggung;
3. Sungai bertanggul di kawasan perkotaan sekurang-kurangnya 3 meter diukur dari sebelah luar kaki tanggul;
4. Sungai tidak bertanggul dilakukan ruas per ruas dengan mempertimbangkan luas daerah tangkapan air;
5. Sungai tidak bertanggul di dalam kawasan perkotaan :
a. Kedalaman tidak lebih dari 3 meter, garis sempadan sekurang-kurangnya 10 meter dari tepi sungai;
b. Kedalaman lebih dari 3 meter sampai dengan 20 meter, garis sempadan sekurang-kurangnya 15 meter dari tepi sungai;
c. Kedalaman maksimum lebih dari 20 meter, garis sempadan sekurang-kurangnya 30 meter dari tepi sungai.
6. Sungai yang terpengaruh pasang surut air laut ditetapkan sekurang-kurangnya 100 meter dari tepi sungai dan berfungsi sebagai jalur hijau.
7. Sungai tidak bertanggul yang berbatasan dengan jalan, garis sempadan adalah tepi bahu jalan yang bersangkutan.
8. Situ, danau, waduk, dan rawa ditetapkan sekurang-kurangnya 50 meter dari titik pasang tertinggi ke arah darat.
9. Rawa yang terpengaruh pasang surut air laut, ditetapkan sekurang-kurangnya 100 meter dari tepi rawa ke arah darat dan berfungsi sebagai jalur hijau.
10. Daerah sempadan pantai lebarnya proporsional dengan bentuk dan kondisi fisik pantai, ditetapkan sekurang-kurangnya 100 meter dari titik pasak tertinggi ke arah darat.
11. Bagian atas dan bawah sumber air ditetapkan oleh gubernur dengan mempertimbangkan ruas bebas di atas permukaan tertinggi serta dasar sumber air terdalam.
Berdasarkan Pasal 22 Perda No. 8/2005, daerah – daerah sempadan sumber air tersebut dilarang untuk dimanfaatkan membuang sampah domestik, sampah industri, limbah padat dan limbah cair, mendirikan bangunan semipermanen dan permanen, serta mengeksploitasi dan mengeksplorasi di luar kepentingan konservasi sumber daya air.

Pelanggaran terhadap ketentuan Pasal 22 merupakan tindak pidana yang diancam dengan pidana kurungan paling lama 3 bulan atau denda tinggi banyak Rp 50.000.000,00. Apabila tindak pidana tersebut mengakibatkan rusaknya sumber air dan prasarananya, mengganggu upaya pengawetan air dan/atau mengakibatkan pencemaran lingkungan, maka akan dikenakan ancaman pidana sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Pada saat Perda No. 8/2005 mulai berlaku, maka Perda No. 20/1995 tentang Garis Sempadan Sungai dan Sumber Air dan Perda No. 12/1997 tentang Pembangunan di Pinggir Sungai dan Sumber Air, dicabut dan dinyatakan tidak berlaku. Hal-hal yang berkaitan dengan izin-izin pemanfaatan daerah sempadan yang dikeluarkan sebelum Perda ini, sepanjang tidak bertentangan, dinyatakan tetap belaku. Sedangkan izin-izin yang berkaitan dengan hal tersebut, yang telah dikeluarkan sebelumnya, diberikan kesempatan untuk menyesuaikan paling lama dalam jangka waktu 5 tahun terhitung sejak berlakunya Perda No. 8/2005. (Sumber : Biro Hukum Pemprov Jabar)Oleh KARTONO SARKIM

 

 

 

 

LutcHu..

iseng2 ngeliat blog orang, trus ketemu yang lucu2. trus gw copy neh.. 🙂

K E P U T U S A N
 DIREKTORAT JENDRAL DEPARTEMEN TENAGA KERJA

NO. KEP. NO. 1205/XI-05/DP/PM/DEPNAKER
T E N T A N G TATA TERTIB KERJA - PERUSAHAAN(BERLAKU EFEKTIF PER 1 FEBRUARI 2006)
PAKAIAN KERJA
anda disarankan berpakaian sesuai gaji yang anda terima. bila kami melihat anda berpakaian mewah, membawa tas Perancis seharga 2 juta, atau sepatu Italia senilai 3 juta, maka kami anggap anda hidup berkecukupan dengan gaji anda dan karenanya tidak akan ada kenaikan gaji sampai anda terlihat melarat lagi.

IJIN SAKIT
kami tidak menerima lagi
surat keterangan sakit dari dokter sebagai bukti bahwa anda sakit.kalau anda mampu mengunjungi dokter, kami nilai anda juga mampu bekerja.

TINDAKAN OPERASI
tindakan operasi sekarang dilarang!. selama anda menjadi kayawan disini, anda harus tetap memiliki seluruh organ tubuh anda. jangan sampai ada organ tubuh anda yang diambil dalam tindakan operasi. dulu kami me-rekrut anda dengan organ-organ tubuh yang lengkap. Mengurangi jumlah organ tubuh kami nilai sebagai pelanggaran perjanjian kerja.

PERSELINGKUHAN DI KANTOR
hanya boleh ditempat yang telah ditentukan yaitu di gudang belakang, ruang generator, tempat foto copy, WC (lihat peraturan mengenai WC) atau didalam lift, yang semuanya telah dipasang kamera monitor dan alat perekam video. anda berdua/bertiga/dst harus menggunakan kondom atau alat pencegah kehamilan & penyakit!.

HARI BEBAS
semua karyawan berhak mendapatkan 104 hari bebas kerja setiap tahunnya, yaitu pada hari sabtu dan minggu!

HAK CUTI
semua karyawan diberikan masa cuti pada waktu yang bersamaan setiap tahunnya sebagai berikut: 1 januari, 17 agustus dan 25 desember.

KARYAWAN MENINGGAL DUNIA
Bila yang meninggal adalah karyawan yang bersangkutan,harus dengan pemberitahuan 2 minggu sebelumnya karena anda harus men-train karyawan pengganti anda.

PENGGUNAAN WC KANTOR
terlampau banyak waktu dibuang di WC!. mulai saat ini, kami akan mengatur jadwal ke WC bagi karyawan sesuai urutan alfabet nama.
contoh:
karyawan dengan awal nama "A" boleh ke WC jam 8 sampai jam 8.20. karyawan dengan awal nama "B" dari jam 8.20 sampai 8.40, dst.., dst... bila anda tidak sempat ke WC dalam jadwal tersebut, anda harus menunggu sampai keesokan harinya. dalam kasus emergency, karyawan boleh menukar jadwal WC dengan karyawan lain. supervisor dari kedua karyawan tersebut harus memberi ijin tertulis sebelumnya.

JAM MAKAN SIANG
- karyawan yang kurus mendapatkan istirahat makan selama satu jam, karena mereka perlu makan lebih banyak supaya kelihatan sehat!.
- karyawan yang berukuran "normal" mendapat jam istirahat makan siang selama 30 menit agar mendapatkan pola makan yang tidak berlebihan untuk mempertahankan bentuk tubuhnya.
- karyawan yang gendut, mendapat waktu istirahat 5 menit, karena mereka cuma butuh minum VEGETA dan pil diet.

Terima kasih atas kesetiaan anda pada perusahaan. kami adalah perusahaan yang sangat peduli dengan sikap positif dan keseimbangan karyawan

taNaH taK Lagi MenYimPan AiR

ADA pernyataan yang mungkin sering kita dengar bahwa manusia masih cukup kuat menahan lapar untuk beberapa hari daripada menahan haus dalam sehari. Begitu pentingnya air untuk kehidupan manusia membuat masa kekeringan dengan permasalahan kekurangan airnya bisa menjadi masalah besar.

Di Pantura, bahkan telah terjadi pertikaian akibat perebutan air akhir-akhir ini. Entah itu untuk pertanian maupun untuk kehidupan sehari-hari masyarakat di berbagai wilayah.

Kita menjadi semakin bertanya-tanya, bukankah kita memiliki banyak hutan? Kenapa sampai bisa kekeringan? Secara ekstrem, kenapa pula terjadi banjir di wilayah lain?

Jawaban yang mungkin mendekati adalah sistem kerja yang tidak memerhatikan ekosistem. Sistem kerja itu berlaku perorangan maupun secara kelembagaan seperti pembangunan yang tidak pro-lingkungan yang dilakukan pemerintah.

Atas nama pembangunan, banyak pohon ditebang. Kawasan lindung yang menjadi daerah resapan air dan menyangga kebutuhan air suatu
kota pun telah beralih fungsi menjadi perumahan, lapangan golf, dan lainnya. Atas nama mencari nafkah, hutan pun diubah menjadi lahan terbuka untuk bercocok tanam.

Lalu, di mana lagi air bisa terserap dan menjadi cadangan untuk kebutuhan masyarakat yang tiada henti terhadap air? Seperti sebuah lingkaran, tanah membutuhkan akar-akar pohon untuk menyerap dan menyimpan air. Sementara, manusia memerlukan keduanya selain unsur alam yang lain seperti api dan udara.

Sumber alam itu ternyata dipersepsi secara berbeda sehingga dieksploitasi dalam proses kerja atau pembangunan. Mengutip pernyataan Dr. Mubiar Purwasasmita dari Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda (DPKLTS), pembangunan memerlukan pengorbanan, itulah ekosistem. Secara ekstrem, ia menjawab, “Lebih baik tidak membuat apa-apa daripada alamnya rusak.”

Dalam kondisi baik, air melakukan siklusnya dari air yang berasal dari tanah, menguap menjadi gas, dan akhirnya menimbulkan hujan yang airnya kembali lagi ke tanah. Namun, berkurangnya jumlah pohon mengakibatkan perputaran siklus menjadi tidak lancar sehingga jarang terjadi hujan di saat musim kemarau. Itu terjadi di dataran tinggi seperti
Bandung sekalipun.

Menurut Mubiar, gas atau udara di atas tanah yang terlihat putih menandakan uap air banyak yang tertahan sehingga tidak menghasilkan hujan. Padahal, bila masih tersedia banyak pohon di perbukitan, mereka akan berfungsi untuk menurunkan temperatur di atas permukaan tanah sehingga terjadilah hujan.

Tidak sampai di situ. Ternyata, hanya 25 persen dari air hujan yang jatuh ke tanah yang bisa dimanfaatkan. Sisanya, kembali lagi ke udara. Karenanya, penyimpanan cadangan air di dalam akar pohon diperlukan untuk menunggu kedatangan hujan berikutnya.

Tugas pohon memang menjadi sangat penting. Ia menghasilkan kesejukan tanah dan udara dengan cara mengubah karbon dioksida (CO2) menjadi oksigen (O2). Kemudian, tanah yang di atasnya ditanami pohon mampu menyerap panas 80 kali lebih besar daripada yang tidak ditanami pohon. Itu ditambah lagi kemampuan pohon untuk menahan air dari erosi yang menyebabkan banjir.

DENGAN perkembangan lahan menjadi perkotaan, daerah resapan air yang menjadi kawasan lindung haruslah dijaga. Misalnya Kawasan Bandung Utara (KBU) yang menjadi penyangga kebutuhan air Kota Bandung. Kawasan lindung semacam KBU diharapkan pepohonannya tidak ditebangi, termasuk satu desa di dalamnya yang luasnya 800 hektar, yaitu Desa Cimenyan.

Untuk menjaga kualitas alam supaya bisa melestarikan tanah dan air yang dikandung di dalamnya, berbagai program memang telah dilakukan. Namun, masyarakat pun belum merasakan dampaknya dan mata air yang tersedia terus-menerus berkurang debitnya.

Sejak tahun 1986, digalakkan program penghijauan lahan KBU. Program serupa diserukan kembali pada tahun 1993. Kemdian, pada tahun 2003, masyarakat dan salah satu perguruan tinggi secara swadaya menyelenggarakan program menanam 200 pohon mahoni. Menurut Dadan Kurnia, anggota masyarakat yang dulunya menjabat sebagai Ketua I Badan Perwakilan Desa (BPD) Cimenyan, Kec. Cimenyan, sekarang ini tinggi pohon kurang lebih mencapai dua meter.

Di tambah lagi, pada tahun 2004, dicanangkan program Gerakan Rehabilitasi Lahan Kritis (GRLK). Program menanam pohon keras berupa buah-buahan seperti durian dan mangga itu dilakukan di lahan seluas 25 hektare. “Tapi efeknya belum terasa. Belum memuaskan untuk pelestarian mata air,” ucap Dadan.

Faktor pengawasan, menurut dia, masih kurang. Setelah penanaman, pimpinan projek jarang mengawasi sehingga lahan terbuka masih lebih banyak jumlahnya daripada pepohonan. Padahal, masyarakat petani yang sebelumnya tidak ingin menanam pohon keras di area bercocok tanamnya sudah berupaya menanam pohon pisang di pinggir tanah garapannya. Menurut Dadan, pisang pun bisa menyerap air seperti pohon keras.

Upaya konservasi memang sudah terlihat. Namun, berbagai program tentunya akan percuma bila tanpa pengawasan dan pemeliharaan. Belum lagi, upaya konservasi itu berbenturan dengan pembangunan yang mengubah kawasan lindung menjadi perumahan, lapangan golf, dan lainnya.

Tanpa lahan yang rimbun dengan pepohonan, air memang sulit terkumpul. Lahan suburlah yang membuat tangkapan air lebih tinggi sehingga saat musim hujan tidak terjadi banjir dan masyarakat pun tidak perlu takut terjadi kekeringan saat kemarau.

Konsep sudah ada, aplikasi memang perlu pengawasan ketat dari seluruh masyarakat. Jangan sampai, mimpi buruk bahwa Kota Bandung menjadi gurun pasir akibat kekurangan air akan terjadi. Ini menyangkut masa depan alam yang berkualitas yang seharusnya menjadi hak generasi ke depan yang tidak boleh kita rampas. (Vebertina Manihuruk/”PR”)

 
   

 

kEmaRau PanJanG dan KriSis Air

 

Kemarau Panjang dan Krisis Air

       

 

Kompas – 09 Oktober 2006

 

 

Sesungguhnya ketidaknormalan iklim seperti kemarau panjang yang menimpa kita dewasa ini bukanlah hal baru karena di waktu lalu pun hal itu biasa terjadi. Jadi, tidak mengherankan bila masyarakat Sunda di masa lalu telah mengenal beberapa jenis kemarau panjang. Misalnya, margsana, kemarau 9 bulan; parepong, kemarau 8 bulan; dan manalung, kemarau 7 bulan.

Namun, dalam perkembangannya dewasa ini, ketidaknormalan iklim seperti kemarau panjang tersebut cenderung makin kerap terjadi dan dan krisis air makin meningkat.

Dulu, masyarakat Sunda memiliki kearifan tinggi dalam mengelola sumber air. Hal tersebut seperti diungkapkan Hasan Mustapa dalam bukunya yang berjudul Adat-adat Urang Priangan Jeung Urang Sunda Lian ti Eta di tahun 1913. Masyarakat Priangan sangat menghormati dan memelihara sumber air.

Sumber air tersebut biasanya dinamakan hulu cai atau sirah cai. Air seolah-olah disamakan dengan manusia yang sedang tidur, kakinya mengarah ke mana-mana. Maksudnya, air dari kepala (hulu) mengalir ke mana-mana menjadi anak-anak sungai dan masuk ke sawah-sawah, kolam, dan lain-lain. Dengan istilah hulu cai itu, maka di masa lalu petugas desa yang mengatur pembagian air irigasi biasa dinamakan mantri ulu atau ulu-ulu.

Pada umumnya daerah-daerah sekitar sirah cai itu ditumbuhi aneka ragam tumbuhan yang sangat khas, misalnya caringin/beringin, loa, teureup, picung, jati, hampelas, awi tamiang, awi tali, dan awi gombong. Karena itu, dari daerah-daerah tebing bukit (gawir) yang rimbun pepohonan, dari dalam tanah, celah-celah batu, atau akar-akar tumbuhan keluar air sebagai hulu cai.

Dari daerah hulu cai tersebut air terus mengalir dan biasanya membentuk sungai-sungai kecil (selokan) dan terus mengalir ke hilir menjadi sungai besar (walungan). Biasanya tempat-tempat keluarnya sumber air tanah tersebut diberi nama berdasarkan pohon utama di wilayah tersebut ataupun kekhasan lainnya, misalnya Cipicung, Ciloa, Citeureup, Citaming, dan Cipasantren. Sebab, sumber air tersebut keluar dari bawah pohon picung, loa, teureup, dan awi taming, atau berada di dekat daerah tempat belajar mengaji atau pesantren.

Di samping itu, dikenal pula sumber air tanah yang tidak menjadi hulu sungai, yang dinamakan cai nyusu atau seke. Karena itu, dikenal beberapa daerah tempat sumber air tanah tersebut, seperti Sekeloa (di bawah pohon loa), Sekejati (di bawah pohon jati), Sekemirung (di bawah pohon mirung atau hamirung). Dikonservasi

Mengingat sumber air atau sirah cai dianggap penting untuk kehidupan manusia, terutama untuk bertani, maka berbagai sirah cai senantiasa dikeramatkan dan tidak pernah ada orang yang berani merusaknya. Bahkan, pada masa-masa lalu, sebagai upaya penduduk untuk menjamin keberhasilan bertani sawah, sebelum memulai menggarap lahan sawah semua penduduk yang mendapat air dari sirah cai yang sama biasa melakukan selamatan di daerah sirah cai tersebut.

Setelah berdoa, orang-orang yang ikut selamatan selanjutnya pulang ke rumah masing-masing. Esok luasnya para petani tersebut dengan perintah mantri ulu-ulu memulai memperbaiki parit-parit, memperkokoh tanggul-tanggul, simpangan air dari parit, dan mengatur saluran-saluran untuk membagi air ke sawah.

Pada masa lalu, kendati para petani tidak menggunakan berbagai peralatan canggih, mereka telah mempunyai kemampuan untuk meramal perubahan musim dan ketidaknormalan cuaca atau musim. Contohnya, untuk meramalkan tibanya musim hujan, para petani umumnya menggunakan pertanda rasi bintang di alam, kehadiran beberapa jenis hewan, dan masa berbuah atau berbunga tumbuhan tertentu.

Masyarakat Sunda juga telah mempunyai berbagai prediksi tentang perubahan musim dengan karakteristiknya. Misalnya, dikenal daur ulang ketidaknormalan musim dalam delapan tahunan, yang biasa dinamakan windu. Windu tersebut terdiri dari bulan Alip, Ehe, Jimawal, Dal, Be, Wawu, dan Jimakir dengan masing-masing karakteristik dan kesesuaiannya untuk bercocok tanam. Krisis air bersih

Akibat perkembangan zaman, yaitu jumlah penduduk kian padat, perkembangan ekonomi cepat, serta ilmu pengetahuan dan teknologi berubah pesat, berbagai pengetahuan tradisional penduduk lokal banyak yang hilang. Hal tersebut dikarenakan banyak orang tua yang memiliki pengetahuan tersebut telah meninggal. Sementara generasi muda sekarang tidak atau kurang tertarik lagi untuk mempelajari berbagai pengetahuan tentang lingkungan di sekitarnya.

Ditambah pula, berbagai sumber pustaka atau buku yang dipelajari di sekolah-sekolah atau bangku kuliah lebih didasarkan pada contoh- contoh pengetahuan dari luar, masyarakat Barat. Pada umumnya cara pandang ilmu pengetahuan dan teknologi Barat tersebut menekankan pada dasar sekular, mekanistis, dan reduksionistis.

Ilmu Barat bertumpu pada pemisahan antara jiwa dan tubuh, subyek dan obyek, roh dan materi, fakta dan nilai. Jadi, ilmu modern menganggap manusia bernilai pada dirinya sendiri, sementara alam hanya dilihat sebagai obyek dan alat bagi kepentingan manusia. Sifat dan perilaku manusia menjadi eksplotatif dan manipulatif terhadap alam serta lebih berorentasi pada kepentingan uang karena pertambahan penduduk yang cepat dan perkembangan ekonomi pasar yang sangat pesat.

Dengan landasan perkembangan manusia yang berorientasi pada kepentingan ekonomi, telah terjadi proses desakralisasi alam oleh invasi dan dominasi ilmu pengetahuan dan teknologi modern. Alam yang dipahami sakral oleh masyarakat lokal dan menyimpan sejuta misteri yang sulit dijelaskan menggunakan akal budi, yang membangkitkan sikap kagum penuh rasa hormat, menjadi kehilangan sakralitas dan misterinya dalam pandangan ilmu pengetahuan dan teknologi modern (Keraf, 2002).

Konsekuensinya, berbagai sumber air tanah seperti hulu cai, cai nyusu, dan seke dewasa ini banyak yang rusak atau hilang sama sekali karena berbagai pepohonan di sekitar sumber air tersebut tidak lagi dihormati dan dijaga oleh penduduk lokal. Namun, pepohonan di daerah- daerah sumber air itu dibuka, antara lain lahannya dikonversikan menjadi peruntukan lain seperti permukiman dan pabrik.

Di samping itu, di daerah-daerah lainnya berbagai pepohonan di kawasan sumber air ditebangi penduduk untuk dijual kayunya. Terlebih lagi, adanya introduksi teknologi baru seperti gergaji mesin ke desa- desa telah menyebabkan makin gampangnya orang menebang kayu dan menjualnya untuk menghasilkan uang.

Karena itu, tidaklah mengherankan bila dalam dasawarsa terakhir ini, ketika timbul kemarau panjang, krisis air bersih makin dirasakan banyak orang di Tanah Air, termasuk di Tatar Sunda. Sebab, banyak sumber air yang dahulu dihormati dan dijaga urang Sunda kini telah punah karena ulah manusia yang tidak bijaksana terhadap alam. (by : JOHAN ISKANDAR Peneliti Pada PPSDAL Unpad)

Air BeRsih Pun HaRus DibUru

 

 

 

     
     
     
  Sungguh indah dan eksotik alam tempat hidup masyarakat Asmat di Distrik Agats, Kabupaten Asmat, Papua. Seperti memasuki sebuah dunia lain. Sungai-sungai yang membelah kampung-kampung warga Asmat, ranting-ranting pepohonan yang menaungi aliran sungai, dan hamparan kehijauan pohon bakau.

Namun, di balik keindahan tersebut tersimpan keganasan alam. Masyarakat Asmat yang sebagian besar tinggal di kawasan rawa itu sulit mendapatkan air bersih. Rawa seakan menjadi sebuah kutukan. Bahkan masyarakat yang tinggal di
kota jembatan Agats mempunyai legenda tersendiri terkait kutukan tersebut. Konon, Agats dulunya tidak berada di atas rawa. Orang Asmat berjalan di atas buminya.

Sampai suatu saat datanglah seorang misionaris bernama Jan Smit. Pada suatu ketika Jan Smit berselisih pendapat dengan seorang warga yang berujung kepada penembakan sang pengabar agama tersebut.

Satu kali tembakan sang misionaris jatuh, dua kali tembakan dia masih bertahan, dan pada tembakan ketiga Jan Smit meregang nyawa. Konon, sebelum mengembuskan napas terakhir, Jan Smit sempat berujar bahwa tanah Agats akan berubah. Setelah itulah diyakini tanah menjadi berlumpur dan orang terpaksa membangun jembatan dan titian.
Ada juga warga yang bercerita, Jan Smit tewas setelah tembakan kelima.

Mantan Uskup Agats, Alphonse Sowada, yang empat puluh tahun tinggal di
sana tersenyum ketika diceritai kisah itu. Alphonse sempat menjadi uskup di
sana lantaran menggantikan tugas Jan Smit. “Ah, itu hanya cerita saja. Orang Agats punya mitosnya sendiri,” ujarnya.

Menurut dia, Jan Smit ditembak warga asal Sorong bernama Fimbai. Kejadiannya tahun 1965. Fimbai yang mendapat prestasi karena melawan Belanda itu anti dengan Jan Smit dan ingin mengambil alih sekolah. Sekolah di Asmat memang dirintis oleh kaum misionaris.

Konon, menurut Alphonse, tahun 1960-an awal di Agats, yang kini menjadi ibu
kota Kabupaten Asmat, memang tidak ada jembatan. Alphonse punya teori tersendiri tentang perubahan lingkungan di Agats tersebut. Dia menduga apa yang terjadi di Agats merupakan kerusakan lingkungan akibat penebangan pohon.

Apa pun legendanya, realitasnya kawasan rawa tidak memberikan banyak pilihan kepada warga untuk mengakses air bersih. Untuk memenuhi kebutuhan air minum, warga mengandalkan air hujan. Air hujan yang luruh dari atap ditampung dengan wadah di bawahnya.

Di daerah Agats, ibu
kota Kabupaten Asmat, Agats adalah kawasan permukiman terbesar di Asmat. Di
kota yang berdiri di atas lumpur itu, berbagai fasilitas publik tersedia secara permanen, mulai dari sekolah, puskesmas, gereja, telepon, dan jaringan listrik yang hidup mulai malam hari.

Akan tetapi, untuk mendapatkan air bersih, penduduk Agats mengandalkan air hujan. Desain atap rumah ditata sedemikian rupa sehingga seluruh air hujan yang tercurah ke atap rumah dapat ditampung dalam tandon air.

Malanglah masyarakat tidak mampu karena mereka tidak bisa membeli tandon atau tong untuk menampung air. Jika dalam beberapa hari tidak turun hujan, masyarakat miskin Agats yang utamanya berada di dusun-dusun akan menjadi orang-orang pertama yang kehabisan air bersih.

Pada suatu pagi bulan Oktober lalu, Maria, warga kampung Syuru di Distrik Agats, menurunkan jeriken-jeriken air dari perahunya. Air pasang pagi itu dimanfaatkan untuk mengambil air di hutan dengan perahu lesung yang dia dayung sendiri. Hujan sudah tak datang beberapa hari dan tak ada air lagi untuk keluarganya.

“Air ini tidak terlalu bersih, tapi masih beruntung daripada tidak ada sama sekali,” ujarnya. Dia lalu menuangkan air dari jeriken ke sebuah wadah putih. Air berwarna kemerahan tergenang di dalamnya.

Untuk berburu dan meramu di hutan bakau, air hujan juga menjadi satu-satunya sumber air bersih. Jika air hujan telah habis, satu-satunya air tawar yang tersedia adalah air bakau berwarna bening kemerahan. Tampungan air bakau yang tawar pun tidak tersedia di banyak tempat, mengingat rendahnya elevasi tanah di pesisir Asmat. Setiap hari pasang air laut masuk ke perairan darat Asmat, hingga sejauh 80 kilometer dari garis pantai.

Pemenuhan kebutuhan dasar

Ketika Bupati Asmat Jevensius Biakay mengangankan instalasi air bersih bagi rakyat Asmat, maka kawasan pegunungan Asmat pun menjadi tumpuan harapan. Sebuah survei pun dilakukan pada 8 Oktober lalu, dengan menyusuri hilir Sungai Ulir, terus naik ke arah hulu sungai di Dumaten.

Daratan bertanah keras pertama yang ditemukan tim survei adalah Sagapu, yang harus ditempuh selama empat jam perjalanan speedboat dari muara Sungai Ulir. Daratan keras itu memiliki sumber air tanah, tetapi ketinggian Sagapu hanya sekitar 3 meter dari permukaan laut (DPL).

Untuk memanfaatkan sumber air tanah di Sagapu, diperkirakan Pemerintah Kabupaten Asmat harus memompa sendiri air tanah itu dengan jaringan pipa air bersih sepanjang 50 kilometer lebih. Harapan agar aliran air dari kawasan pegunungan menuju kawasan pantai juga sumber tenaga penggerak turbin listrik tidak akan terwujud jika air tanah diambil dari Sagapu.

Alternatif lain pun dicari. Tim survei pun memburu sumber air di Ti, Koba, Se, dan Dumaten. Tim bahkan mencoba mencari sumber air di Suru-suru, wilayah perbatasan yang tengah diperebutkan Kabupaten Asmat dan Kabupaten Yahukimo.

Di antara Dumaten dan Suru-suru ditemukan sebuah tempat yang ideal untuk membangun instalasi air bersih. Lokasi itu berjarak 123 kilometer dari Kota Agats. Data survei sementara menyimpulkan, elevasi air berada 20 meter DPL sehingga air tanah dapat disalurkan dengan memanfaatkan energi potensial selisih elevasi itu.

Pembangunan instalasi air bersih sendiri masih membutuhkan banyak waktu karena lokasi itu jaraknya sangat jauh di pedalaman Asmat. Untuk mencapai lokasi itu, jarak yang harus ditempuh dengan menyusuri sungai mencapai 211 kilometer, dengan waktu tempuh tidak kurang dari delapan jam.

Volume air tanah di kawasan itu belum disurvei sama sekali. Jika penyaluran air tanah itu membutuhkan tenaga pompa, pengiriman bahan bakar pompa ke Dumaten menjadi masalah tersendiri, mengingat transportasi sungai yang mahal adalah satu-satunya cara mencapai Dumaten. “Bagaimana pun, kami harus memulai rencana ini. Ketergantungan terhadap air hujan sebagai sumber air bersih bagaimanapun menimbulkan biaya tinggi bagi masyarakat. Air bersih pun tidak tersedia secara terus-menerus,” kata Biakay.

Ketua Forum Komunitas Pengelolaan Kualitas Air Minum Abdullah Muthalib dalam sebuah kesempatan di
Jakarta mengatakan, daerah rawa dan pantai merupakan kawasan yang paling sulit mengakses air bersih. Ini karena sumber air permukaan umumnya ialah air payau yang mengandung garam, sedangkan sumber air dalam tanah sangat sulit.

Air hujan jadi alternatif. Penggunaan air hujan untuk mencuci memang masih memungkinkan, tetapi kurang baik untuk diminum karena menyebabkan kerusakan gigi. “Air hujan kekurangan mineral antara lain fluor sehingga gigi kurang mendapat perlindungan,” ujar Abdullah, mantan Direktur Penyehatan Air dan Pengamanan Limbah Departemen Kesehatan. Secara tradisional, masyarakat setempat beranggapan dengan mengunyah sirih bersama kapur dapat menguatkan gigi.

Abdullah mengatakan, penyaringan secara konvensional dapat dilakukan. Namun, air belum siap minum dan keberlanjutannya membutuhkan perawatan intensif. “Dalam beberapa proyek uji coba di sejumlah daerah, ternyata filter mudah macet atau tersumbat karena masyarakat malas membersihkan dan pemerintah daerah tidak terlalu peduli,” ujarnya.

Penyelesaian lain ialah dengan menggunakan teknologi reverse osmosis. Teknologi yang singkatnya berupa penyaringan pada tingkat molekul tersebut telah digunakan sejak awal tahun 1970-an. Biasanya, untuk memproses air laut guna mendapatkan air tawar.

Abdullah pernah tergabung dalam kegiatan pembangunan reverse osmosis di sejumlah daerah. Dengan teknologi tersebut, air yang dihasilkan layak minum cukup banyak dalam waktu cepat. Namun, biaya yang dikeluarkan mahal dan perawatan sulit. Pada tahun 1999, untuk membangun instalasi dengan hasil 10 meter kubik air per hari dibutuhkan biaya Rp 600 juta untuk satu desa.

Sayangnya, perkembangan program tersebut tidak memuaskan karena lagi-lagi warga dan pemerintah daerah tidak merawat instalasi itu sehingga akhirnya rusak. Selain mahal, perawatan juga membutuhkan teknisi khusus. Setidaknya, untuk warga miskin yang tidak mempunyai penampungan air hujan dan paling rawan kekurangan air bersih dapat difasilitasi agar memiliki tandon komunitas sebagai penyelesaian sementara.

Yang terpenting, kebutuhan dasar warga akan air terpenuhi. Sungguh ironis. Kekayaan bumi Papua tak hentinya digali dan dikuras. Namun, ketika ada salah satu pojoknya kekurangan hak dasar, kok ya sulit memenuhinya?By : Indira Permanasari dan Aryo Wisanggeni Genthong